PASANG BUSI RACING DI MOTOR HARIAN: Bikin Motor Tambah Kencang ?

Namanya motor standar harian buatan pabrikan, tentu sudah dirancang sesuai peruntukannya. Semua komponen terutama di sektor engine sudah diset sedemikian rupa, lewat riset dan uji coba.

 

Namun, namanya konsumen pemakai, banyak cara yang dilakukan agar motornya ingin lebih kencang, atau ingin lebih irit.  Satu trik paling umum, mengganti busi standar dengan busi racing. Asumsinya, cukup dengan busi racing ini, motor bisa lebih kencang, ala motor balap. Apa benar?



Busi racing sebenarnya tidak bisa asal dipakai di motor harian. Jika busi racing dipakai di motor harian, tanpa ubahan apapun di bagian mesin lain, tidak akan berpengaruh apapun ke performa mesin. Malah sebaliknya, bisa muncul beberapa masalah. Pasalnya, busi racing memang dirancang khusus dengan spek resistor dan kelistrikan untuk penggunaan kompresi tinggi, sehingga akan mbrebet untuk putaran rendah.

 

Meski begitu, ada juga motor-motor keluaran terbaru seperti New CBR250RR, Yamaha New R15, dan Suzuki GSX-R150 yang punya spek mesin kompresi tinggi, sudah dilengkapi busi standar semisal tipe iridium sehingga menghasilkan pembakaran yang lebih sempurna, yang mana jauh lebih efisien daripada sekedar dipasangi busi racing. Berikut beberapa dampak penggunaan busi racing di motor harian :

 


MUNCULNYA KERAK DI MESIN

 


Dari speknya, busi racing dilengkapi dengan resistor yang berbeda, sesuai untuk mesin kompresi tinggi. Jika dipasang di motor harian dengan kompresi rendah, mesin akan lebih sulit dinyalakan. Artinya, akan menyebabkan gagal pembakaran atau pembakaran tidak sempurna, muncul kerak dalam silinder ruang bakar terutama di cylinder head dan piston, karena sisa pembakaran atau deposit karbon yang berlebihan tadi.

 


MESIN BREBET

 


Karena spek dan fungsi busi racing cocok dipakai untuk rev menengah-tinggi, maka motor harian yang dipasangi busi racing akan terasa enak dan nyaman saat dipanteng di putaran tinggi.

 

Sebaliknya, saat dipakai di putaran rendah, dalam kondisi kecepatan rendah atau bermacet ria dengan ritme stop & go, bisa jadi motor akan terasa brebet. Kinerja mesin akan terganggu, dengan posisi pembakaran yang tidak terpusat, sehingga berpotensi menyebabkan kerusakan mesin.

 


MOTOR SUSAH DINYALAKAN

 


Dengan komponen resistor yang lebih besar daripada busi standar, tentunya ini membutuhkan sistem kelistrikan yang perlu disesuaikan. Kalau tidak, maka motor bakal susah dinyalakan karena adanya ketidaksinkronan antara komponen busi racing dengan kelistrikan. Karena perbedaan spek tadi, bisa juga muncul misfiring.

 


BUSI TIDAK AWET

 

 

Busi Racing diciptakan untuk spek mesin kompresi tinggi, yang mana punya kemampuan self cleaner atau membersihkan dirinya sendiri.  Artinya, Busi racing dan busi standar memiliki angka self-cleaner (SC) yang berbeda, dengan acuan, busi racing hanya bekerja pada range temperatur tinggi.

 

Sedangkan busi standar sudah bisa bekerja sejak temperatur rendah, atau pada kecepatan sekitar 40-60 km/jam. Jika dipaksakan tetap bermain di putaran rendah, tentu self-cleaner dari busi racing ini tidak akan jalan, hingga akhirnya busi jadi kotor/berkerak, tenaga drop dan busi-nya mati.


 


naskah : ferry setiawan
editor : punk