PAHAMI TINGKAT KEKENCANGAN MUR SECONDARY SHEAVE

PERINGATAN keras bagi bikers yang biasa rumahnya menjadi bengkel dadakan, untuk bongkar pasang CVT skutik. Termasuk bengkel umum yang tak memiliki special tools (SST) untuk bongkar pasang daleman CVT.


Problem baru terjadi, sehubungan dengan kendornya mur pengunci mangkuk kopling sentrifugal yang ada di secondary sheave. Hingga terjadi suara klatak .... kalatak di daleman CVT. Kalau sampai kejadian ngeri juga, sebab rawan memicu terjadinya cover CVT pecah dan kerusakan daleman CVT lainnya.



Problem demikian biasa dipicu oleh kurangnya tingkat kekencangan mur pengunci mangkuk kopling sentrifugal. Kadang peralatan SST terbatas, sehingga saat proses mengencangkan mur berlangsung, peralatan SST sebagai penahan secondary sheavenya nggak ada. Sehingga berlangsung dengan trik ala kadarnya untuk menahan secondary sheave.

Pesan dari Saiful mekanik Suzuki Urip Sumaharjo, Surabaya, saat bongkar pasang piranti ini sebaiknya berikan tanda top kekencangan mur. Dengan begitu, standarisasi tingkat kekencangan mur berikutnya bisa diikuti, sesuai dengan torsi kekencangan yang dibebankan oleh pabrikan.

Caranya, cukup berikan tanda spidol atau stipo atau goresan betel, sebelum melanjutkan ke pembongkaran. Dengan adanya tanda tadi, itu artinya tingkat kekencangan mur jadi terukur sesuai standarisasi pabrikan.

Sehingga dalam proses bongkar pasang berikutnya, bisa dijadikan parameter tingkat kekencangan murnya.  "Dan cari ini bisa diterapkan untuk semua jenis skutik, "ingat Saiful. | pid