HONDA SONIC 150 Fi “2018 – MADIUN : EVOLUSI KARBU DIPERSIAPKAN SPESIAL TREK 500 METER

 

Budi Sutanto RAT Motor Sport Sidoarjo. Siap menggeser champion kuda besi pemain lama.

 

Bagi Irsyad mania kecepatan asal Madiun yang juga pemilik Sonic 150 Fi, mengkonversi system Fuel injection ke karbu, menurutnya sebuah keputusan yang tepat. Pasalnya, Fuel injection memang cakap dan keren untuk kebutuhan road race, takaran suplai gas segar dijamin presisi berbanding RPM. Tapi, saat dipakai karapan entar dulu !

 

 

Sebab, pola pikir demikian yang justru dibalik oleh Irsyad. Cuman, ketika dinilai dari basis mesin, Sonic 150 Fi banyak kelebihan, yang belum terpikirkan oleh tuner yang biasa berlaga di karapan. Pada point ini, Irsyad sepakat untuk memutuskan mengaplikasinya sebagai basis gacoan karapan 500 meter.

 

Sisi lain, Irsyad juga ingin menampilkan kompetisi yang lebih segar. “Jadi tak cuman kuda besi pemain lama yang tampil mendominasi, ”sumbar Irsyad.

 

Progres inovatif dan penuh tantangan ini kemudian direalisasi Irsyad bareng Budi Sutanto tuner RAT Motor Sport di Jl. By Pass Juanda 17, Sidoarjo, yang tenar dengan berbagai inovasi terbaru.

 

Prioritas rombakan konversi Fuel injection ke karbu ada di fly wheel magnet. Pick up coil orsi dibiarkan aslinya, cuman pick up coil tambahan dan yang berfungsi dibuat di tepi atau bibir fly wheel. Kalau digambarkan dengan lingkar 360 derajat, posisi fulser yang dikanibal dari Satria F 150 ada di titik 25 derajat – 30 derajat arah jarum jam.   

 

Bahkan instalasi kabel dirancang ulang, semua kelistrikan cuman ditanggalkan untuk kebutuhan head lamp dan arus pengapian yang menganut AC/DC. Menurut Budi sapaan tuner beken asal Palembang itu, agar suplai arus DC saat gasingan bawah tetap fokus untuk pembakaran.

 

Karbu Ride It PWK 35 mm. Mengikuti naiknya kapasitas mesin.

 

Praktis intake manifold berganti dan beralih fungsi sebagai dudukan karbu Ride It tipe PWK 35 mm, pertimbangan kapasitas mesin saat ini yang berada di 197,6 cc. Diteruskan over porting intake hingga 33,5 mm rata, berikut lubang buang dijadikan 30 mm.

 

Paling mendasar racikan silinder cop itu dipersiapkan untuk melayani kapasitas mesin yang meningkat, hasil kanibalan piston Moto-1 berdiameter 66 mm denga tetap mempertahankan ukuran pen 14 mm.

 

Cylinder sleeves OEM jadi terkikis dan berganti sleeves jenis CN. Dasar itu pula camshaft dipinang dari BRT, dengan pembenahan pada angka LSA-nya. Berikut pemakaian driven gear cam chain adjustable, untuk mempermudah memainkan timing buka tutup katup 24 mm (in) dan 21 mm (ex). Untuk mesin yang mengusung DOHC, driven gear cam chain adjustable, menjadi kebutuhan mutlak.

 

Ketika lebih jeli, dapat dimanfaatkan untuk lebih mengawalkan dan memperlambat buka tutup katup. “Dari sini pula, power produktif yang paling ideal menghela perbandingan gigi rasio OEM dicari dan dikaji, berikut dibukukan dalam bentuk data, ”teori Budi yang mengusung knalpot dengan leher 33 mm dan sarangan 40 mm.

 

Sistem pendingin aktif. Menjaga suhu mesin lebih stabil & rencana berganti water pump electric Bosch.

 

Selain itu, system pendingin di sektor ini tetap difungsikan, guna mereduksi panas mesin. Hanya saja, thermostat dinonaktifkan tapi casingnya tetap terpasang. Untuk sementara, siklus air radiator masih mengikuti putaran mesin.

 

Tapi, ketika water pump electric merk Bosch yang kita order sudah datang, kita akan gantikan. “Prinsipnya, agar tak lagi membebani putaran gigi primer sebagai drive-nya, ’terang Budi yang mencangkok selang air radiator Samco.

 

CDI Predator. Maping ignition produktif di gasingan atas.

 

Dari hasil pengujian dynotest, menunjukkan HP dan Torsi maksimal berada di gasingan tengah atas. Jadi, klop dengan maping CDI Predator programmable yang timing ignition tertinggi diplot di 35 derajat.

 

Dengan begitu, final gear dengan perbandingan ringan 13-35, Budi jadi berani mengaplikasi. Bahkan, tipikal power kali ini terakumulasi kian bengis, saat perbandingan kompresi merujuk di 13,3 : 1.    pid