Ninestar Iwak NMT MX Team, Sidoarjo, Jatim Makin Eksis di Motocross : WACANA SOSIALISASI TIM INDEPENDENT MOTOCROSS JATIM

 

Ninestar Iwak NMT MX Team, Sidoarjo, Jatim. Formasi tim MX Jatim makin bertambah & optimis garap gebrakan baru soal pengembangan motocross di Jatim.

 

 

Kelar mensuport sepenuhnya even Gebyar Hari Raya MX-GTX Openchampionship 2019, di sirkuit lereng Kelud, Kediri bulan silam. Giliran MX GP di seri 2, Semarang, Ninestar Iwak NMT MX Team, Sidoarjo, Jatim menurunkan  duet crosser adik kakak M. Rizky di kelas 65 c pro dan M. Zulmi MX2 Open.

 

M. Zulmi dengan bekal skill, jam terbang, fisik yang mumpuni, sukses menjadi peringkat teratas. Sedang, M. Rizky baru saja beradatasi fight dengan crosser belia bule dan bengisnya sirkuit MX GP. Keduanya hasil binaan instruktur kawak Tri Priyo Nugroho asal Kraas, Kediri.

 

Giliran digelarnya laga Menbanpur 2 Mar Grasstrack Motocross 2019, di sirkuit Sukarmed, Bumi Marinir, Karangpilang, Surabaya, Ninestar Iwak NMT MX Team kembali laga full tim dan diperkuat dua crosser yang juga putra H. Irwan pemuka otomotif kawak Jatim. Tapi, bukan itu saja di musim kompetisi 2019 ini fix, Ninestar Iwak NMT MX, Sidoarjo, Jatim aktif berlaga di semua even motocross tanah air.

 

 

 

Turun-nya Ninestar Iwak NMT MX Team, Sidoarjo, Jatim otomatis, total formasi tim-tim MX di Jatim makin bertambah. Lantas, mampukah Ninestar Iwak NMT MX Team, Sidoarjo memberi warna baru di dunia motocross dan grasstrack Jatim ?

 

Mochammad Hasan yang akrab disapa dengan Gus Hasan CEO Ninestar Group Indonesia sebagai payung usaha dan bisnis yang dijalani, optimis akan tampil membuat gebrakan baru. Sekilas infonya, belum lama ini Ninestar Group Indonesia menggelar drag bike & drag race spektakuler di sirkuit Bung Tomo, Surabaya,  dimeriahkan oleh DJ kondang tanah air, hingga menembus estimasi bajet penyelenggaraan diatas Rp. 100 juta.

 

Ada obsesi yang terpendam dari seorang Gus Hasan, sehubungan pengembangan dan peninjauan kembali, standarisasi motocross di Jatim. Sekarang bicara motocross dulu, yang memang lagi intens digeluti Gus Hasan. Seperti wacana, keinginan untuk membentuk tim independent motocross, yang akan difungsikan sebagai regulator perjalanan dan perkembangan motocross, seiring pertumbuhan crosser-crosser di Jatim.

 

Detail desain sirkuit motocross. Tingkat kesulitanya makin ideal mengikuti perjalanan & perkembangan crosser & menyelaraskan makin berkembangnya MX Training di Jatim.

 

 

Ilustrasinya simpel kok, kalau siswa sudah di kelas 6 SD, jangan sampai diberi pelajaran kelas 3 SD atau 4 SD. Bicara pembinaan disisi mana, bicara mau go nasional ya kapan bisa ?, ”wejang Gus Hasan yang juga cucu Kyai kawak dimasa kerajaan Kutei itu. Disini Gus Hasan mencoba mengilustrasikan, “unsur” soal perkembangan dan desain sirkuit di Jatim. "Akan terjadi siklus, ketika desain sirkuit disinkronkan dengan perjalanan perkembangan crosser, "yakin Gus Hasan.

 

Bisnis di dalam motocross ayo dan saya junjung tinggi, bila perlu saya support sepenuhnya atau co sponsor, kalau memang sudah ada jaringan networking dengan sponsor lama. Tapi, boleh dong sedikit dikontrol secara terpadu dan komprehensif, agar setiap perjalanan even motocross bisa menjadi media “aktifasi” skill crosser untuk naik step baik skill, mental dan fisiknya.

 

Tak usah muluk-muluk, cukup libatkan instruktur MX Training setiap pembuatan dan desain sirkuit, pasti sempurna hasilnya. Fungsi keberadaan tim Independent Motocross tugasnya ada disini, membuat penilaian dan grafik tingkat kesulitan sirkuit, sejak awal tahun hingga akhir musim kompetisi, ”timpal Gus Ali Sekjen Ninestar Group Indonesia.

 

Pastinya, ilustrasi tingkat kesulitan sirkuit dalam grafik ini, akan menjadi input, sebagai bekal penyelenggara di setiap perjalanan even motocross, untuk tujuan dan kepentingan bersama.

 

Lantas, kapan maju dan berkembangnya, kalau skema obsesi perubahan motocross tak dipandu dengan sistem hasil output tim independent motocross tadi ? “Tapi, ingat sistem dibikin sebagai sarana guide, tolak ukur yang terpadu dan tak ada tendensi apapun, ”bijak Gus Ali.

 

Pola pikir seperti ini, juga untuk menyelaraskan dengan berkembangnya MX Training di Jatim. Agar, pola pikir crosser sejak dini tidak dikembangkan berdasar prestasi dan terjebak diumur kemudian naik kelas. “Amat disayangkan ketika pola kenaikan kelas crosser yang terbentuk seperti ini mentradisi di Jatim,”lontar Gus Ali.

 

Sejatinya, ada logaritma dan output diluar prediksi, baik instruktur, orang tua dan manager, yang sejatinya dimiliki crosser saat dia mulai menemukan kelebihan dan keinginan untuk keluar dari zona nyaman kompetisi. “Sebab, dengan dijalankanya sistem ini, saya yakin secara grafik peningkatan crosser akan terjadi signifikan, ”ilustrasi Gus Ali.

 

Memang untuk praktek dan dukunganya butuh banyak yang terlibat, agar kajian seperti ini mampu memberi efek positif lebih merata. Dengan begitu, akan terjadi skenario yang sifatnya alami, terjadinya kompetisi antara crosser belia dengan jagoan lama. Pola pikir seperti ini yang layaknya dibangun dan dikembangkan. “Mungkin akan saya awali untuk mensosialisasinya, ”kompak Gus Hasan dan Gus Ali yang akan menerapkanya pada realisasi pembangunan sirkuit motocross Prambon, Sidoarjo di 2020.    pid