Mochammad Hasan - Chief Excecutive Officer Nine Star Group Indonesia : MEMBAWA PERUBAHAN DUNIA OTOMOTIF TANAH AIR

 

Gus Hasan CEO Nine Star Group Indonesia. Menyelaraskan pertumbuhan pelaku balap berbanding kualitas even.

 

 

Sebagai sosok pemikir, yang baru saja muncul setelah lama bermain di belakang layar. Bahkan sosok pria low profile yang akrab disapa Gus Hasan ini, hampir tak pernah terexpose media otomotif, selama laga di kejuaraan drag race sejak 2007.

 

Saya cuman meramaikan, sebagai hobi turunan keluarga besar pondok pesantren Al Hamdani, Sidoarjo, yang rata-rata penghobi otomotif. “Tak kurang tak lebih, sebatas hiburan dan jalin silaturahmi dengan kerabat yang aktif laga di drag race, ”urai Gus Hasan dengan nada lirih.

 

 

 

Ketika memasuki 2019, pria yang dipercaya beberapa kontraktor tenar di tanah air itu, tanpa ada yang mengkomando atau pemicunya hingga panas, tiba-tiba Gus Hasan muncul di sirkuit motocross.

 

Sontak, munculnya alumni salah satu pondok pesantren di Rembang, Jateng itu, banyak mengundang perhatian pengamat dan pelaku motocross tanah air, saat di special event Gebyar Hari Raya Motocross & Grasstrack 2019 di sirkuit lereng Kelud, bulan silam. Namanya disebut-sebut sebagai penyandang dana, even spektakuler yang diikuti oleh tim-tim motcross dan grasstrack nasional.

 

 

Konsep pembaharuan otomotif dari sosok Gus Hasan. Berpikir jernis & saling menghargai.

 

 

Baru saja tampil di 2019, bukan berarti saya tak memahami perkembangan motocross dan grasstrack. Tapi, sejak lama saya mengamati detail, perkembangan, sepak terjang penyelenggara, minusnya sponsor, hingga kualitas sirkuit yang kadang dipaksakan. “Dari rasa ingin tahu ini, sebenarnya yang membuat saya prihatin, ”wejang pemegang brand fashion Homme yang lagi nge-hits itu.

 

Untuk memastikanya, saya terjun langsung dengan membuat formasi tim motocross Nine Star NMT MX Team, Jatim dan turun all out di semua even motocross termasuk MX GP. Cuman, berusaha merefleksikan perasaan sebagai owner tim, saat menghadapi kondisi motocross yang seharusnya, dari tingkat kelayakan waktunya mengalami upgrade dari sekarang ini.

 

Sebab, berbanding terbalik dengan derasnya perkembangan crosser dan tracker, atau makin bejibunya MX Training. Apalagi, secara siklus peningkatan dan penjenjangan skill crosser dalam setiap even, skemanya belum mengena atau merata.   

 

Hati kecil yang teriak seakan tak terima, melihat kondisi seperti ini. Maaf bukan sok menjadi pahlawan kesiangan, saya masuk berusaha menjadi regulator. Berusaha memulihkan kondisi motocross dan grasstrack. Bentuk perhatian bagi saya tak cukup hanya dengan mengakomodirnya dengan even dan even.  

 

“Bukan berarti even Gebyar Hari Raya Motocross & Grasstrack 2019 di sirkuit lereng Kelud yang saya support itu terbaik, tapi saya berusaha memperbaiki dengan memilah problem dan mencari benang kusutnya ada dimana, ”beber pengasuh pondok pesantren Al Khoziny,  Sidoarjo itu.

 

Ingat, ini masih awal, masih ada steping untuk melangsungkan perubahan. Tinggal di sisi mana yang bisa direfresh duluan, tanpa merusak tradisi atau kultur secara frontal. Sehingga proses perubahan nanti, saya yakin tak akan ada yang tersakiti dan akan berjalan smooth.

 

Konsolidasi. Cermin hidup berdampingan & pernyataan sikap maju bersama.

 

 

Konsolidasi ? pasti, tapi perlu juga untuk action dan tak cuman menyampaikan konsep hingga selangit. Saya justru akan merasa bangga, ketika tiba saatnya nanti, semua para pelaku, pengamat, bisa berjamaah melakukan perubahan. “Cukup modal niat, berfikir jernih  dan istiqomah, ”tegas Gus Hasan.

 

Termasuk di even drag race dan drag bike sebagai hobi lama, juga akan dilangsungkan perubahan. Kalau bulan Maret silam di sirkuit Bung Tomo saya mengundang DJ kondang tanah air Herjun Ali, Jurika dan Regina, agar mampu menghadirkan energy positif bagi peserta drag race, sekaligus crowd penonton. Tapi, di even drag race di 27 Juli 2019 mendatang, saya akan pacu dengan hadiah 1 unit motor.

 

Kalau di drag bike, ada rencana untuk memberikan apresiasi lebih. Lewat kelas best of the best, saat di tengah even berlangsung. Sifatnya spontanitas, skemanya simpel, siapa yang mengaku tercepat, silahkan turun, dengan basic kuda besi bebas. Tapi tetap hasil kesepakatan bersama. Dan juaranya kita ambil cuman satu yang tercepat sekaligus sebagai penobatan “The Fastest In This Event”.

 

Output demikian juga dari hasil evaluasi dan niat untuk berubah lebih baik, yang mendekati sempurna. Tapi, saya tak akan berhenti sampai disini, proses merefresh atmosfir otomotif tanah air sifatnya steping. Dan belum tentu kebijakan yang berlangsung di tahun ini akan menjadi baik saat direalisasi di 1 - 2 tahun mendatang. “Pada fase ini, lebih pas disebut sebagai penyampaian pesan “hidup berdampingan layak saling menghargai dan mengasihi, ”bisiknya.      pid