REGULASI BARU KEJURPROV ROAD RACE JATIM 2019 : OPTIMIS MP 1 KEMBALI MEMBLUDAK & MINI GP DISCRUT !

 

Quota kelas MP1 Jatim. Meskipun telah disosialisasi tetap sepi peserta & justru sering dibatalkan.

 

Ada pola pikir aspiratif dan berani yang menjadi gebrakan Pemprov IMI Jatim di musim kompetisi kejurprov road race 2019. Kebijakan ini berlangsung ketika mencermati makin berkurangnya quota rider yang berlaga di MP1 dan MP2. Memang menjadi hal yang krusial, saat kedua kelas tadi selalu dibatalkan, efek quota yang tak memenuhi aturan.

 

 

Praktis dari sisi entertaint, kedua kelas yang selalu dinanti audiens, kurang bisa membisingkan sirkuit. Apalagi sifat kompetisinya selalu berjalan dramatis, kalau tak main potong racing line, biasa membuang lawan. Sebagai input rider saat paham kuda besinya kurang bisa fight.

 

Tapi, yang lebih penting lagi ada di daya tarik road race itu sendiri, berbanding kemampuan financial  komunitas balap road race membangun kuda besi Fuel injection.  Tapi, jujur ketika diinvestigasi, sebenarnya hal demikian bukan menjadi pengaruh paling vital. Coba kalkulasikan tim yang biasa berlaga dan bangga dengan bebek 2 tak 116 cc dan 120 cc standar maupun open.

 

Rata-rata satu tim kuda besi 2 tak-nya diatas lima unit, kalau hitungan kasarnya membangun sampai testcase hingga menelan bajet Rp. 25 juta setiap unitnya, maka kalau empat unit, jadi tembus Rp. 100 juta. Dan ketika dikonversi untuk membangun kuda besi spek MP1 dan MP2, amat sangat bisa sekali.

 

Dari investigasi itupula, akhirnya mengerucut problem yang paling telak hengkangnya tim road race membangun spek MP1 dan MP2 adalah persoalan infrastruktur penunjang saat membangun kuda besi Fuel injection. Pada bagian ini tuner, masih ada ketergantungan dengan workshop atau bengkel yang punya cap racing Fuel injection, untuk pengembangan dan final seting.

 

Otomatis tuner tim inti ketika idealisnya muncul, serasa dikebiri. Ilustrasinya, jabatan dokter mendadak downgrade jadi bidan. Beda dengan tuner yang mau berkembang dan visioner, dia akan terbang menimba ilmu di padepokan spesialis up grade kuda besi racing Fuel injection.

 

Tapi, kembali lagi ke persoalan jenjang dan misi tim yang dinakhodai tuner tadi. Kalau sebatas bertempur di provinsi, langkah tuner untuk berkembang belajar Fuel injection juga berat. Kalaupun penyelenggara membuka kelas Fuel injection dengan level paling bawah, kendala barunya justru di rider yang relatif memberlakukan batasan umur alias relatif belia.  

 

Belum lagi, persoalan hampir tiadanya sponsor, pingin tebar pesona, lantas ke siapa. Nah, kompleks permasalahan ada disini. Fase, system atau rancangan atau istilah apapun sebagai mediasi transisi karbu ke Fuel injection, putus disini.

 

Menyikapi problem ini, terhitung mulai awal seri kejurprov road race 2019 dan minggu ini yang akan dihelat di Ponorogo (3/3/2019), terjadi perubahan regulasi yang sifatnya aspiratif. Paling mendasar, latar belakangnya menjaga animo pembalap road race tetap semangat dan ada harapan untuk menjadi champion di MP1 dan MP2. “Sekali lagi, tujuannya road race agar tetap popular, ” lugas Bambang “Kapten” Haribowo Ketum Pemprov IMI Jatim.

 

Lebih lanjut, bagi yang sudah melangkah maju ke level Fuel injection, tetap kita akomodir in line. Dan bagi tim yang masih berkutat di karbu, kita tunggu sampai tiba saatnya, kapan tuner, manager dan rider timbul inisiatif dari lubuk hatinya, hingga sampai bisa membangun kuda besi Fuel injection, iya toh. “Prinsipnya kita menjadi payung, menyampaikan dan mengolah aspirasi, berlandaskan memajukan otomotif di Jatim, ”optimis Bambang.

 

Yanto Gondrong & Bambang Haribowo. Setia mengawal rider Jatim hingga timbul inisiatif beralih ke Fuel injection & harapkan road race kembali popular.

 

Kabar baiknya, IRC kembali menjadi official tire perjalanan Kejurprov road race Jatim di 2019 dan telah menjadi keputusan final. Kali ini akan turun full tim dengan satu armada truck, untuk pembekalan materi pengetahuan ban soft compound yang ideal, tire changer, hingga penggantian angin jenis nitrogen spesial bagi para rider yang berlaga di sirkuit Ponorogo. Selain itu, Yanto Gondrong kembali mereminding pengenalan ban balap Fasti 1, Fasti 2, Fasti 3 dan Fasti Pro, baik ke komunitas balap maupun ke audiens langsung.

 

 

Berikut adalah REGULASI TEKNIK BALAP MOTOR 2019 IMI PEMPROV JATIM, dengan scoop dan berlaku di Pemprov IMI Jatim. Tertanda telah dibuat oleh Agung Y. Siswanto Komisi Balap Motor dan Drag BIke Pemprov IMI Jatim, bersama divisi tekhnik dan scrutenering Pemprov IMI Jatim, pada 28 Februari 2019.

 

REGULASI TEKNIK BALAP MOTOR 2019 IMI PENGPROV JATIM

REGULASI MP 1

- Karburator 30 mm

- Throttel body 33 mm

- Klep maksimal 31 mm (karbu)

- Klep maksimal 25 mm (injeksi)

- Magnit (fly wheel) bebas

- Kapasitas mesin (karbu) bisa menyesuaikan kapasitas mesin injeksi 150 cc

- Diperbolehkan bore up & geser big end atau naik stroke tidak diperbolehkan

 

REGULASI MP 2

- Karbu maksimal 30 mm

- Throttel body 30 mm

- Klep maksimal In 31 mm (karbu/injeksi)

- Magnit (fly wheel) bebas

- Kapasitas mesin dibatasi sampai dengan 130 cc

 

REGULASI MP 3

- Karbu maksimal 30 mm

- Throttle body 32 mm

- Klep maksimal 26 mm (karbu)

- Klep maksimal 25 mm (injeksi)

- Magnit (fly wheel) standart modif bawaan motor dan batu magnit wajib berfungsi (bawaan motor)

- Kapasitas mesin karbu bisa menyesuaikan injeksi

- Diperbolehkan bore up & geser big end atau naik stroke tidak diperbolehkan

 

REGULASI MP 4

- Karburator maksimal 24 mm

- Throttle body 26 mm

- Klep maksimal 26 mm (karbu)

- Klep maksimal 26 mm (injeksi)

- Magnit standart modif bawaan motor dan batu magnit wajib berfungsi (bawaan motor)

- Kapasitas mesin karbu bisa menyesuaikan injeksi

 

REGULASI MP 5

- Throttle body 30 mm

- Pengukuran dilakukan sebelum butterfly

- Magnit (fly whwel) standart modif dan batu magnit wajib berfungsi

- Dinamo starter wajib berfungsi

- Spul wajib terpasang walaupun tidak berfungsi

 

REGULASI MP 6

- Tidak ada perubahan regulasi (seperti tahun sebelumnya)

 

KELAS MATIC STD 116 CC S/D 130 CC

- Karbu standart modif, dibagian luar karbu tidak boleh ada perekat/lem

- Knalpot bebas

- Magnet (fly wheel) standart modif, batu magnet wajib berfungsi dan boleh melakukan pergeseran pick up coil / kontak fulser.

- Dinamo starter wajib berfungsi dengan semestinya

- Spul wajib terpasang

- CDI / ECU bebas

- Klep standart

- Kipas wajib terpasang dan penutup magnet (fly wheel) harus terpasang.

- Bahan bakar wajib yang tersedia di SPBU, tidak diperbolehkan menggunakan bahan bakar pesawat (avgas), methanol dan lainnya.

 

KELAS MATIC TUNE UP 116 CC S/D 130 CC

- Karbu maksimal ukuran 28 mm

- CDI / ECU bebas

- Magnet (fly wheel) bebas

- Knalpot bebas

- Diperbolehkan menggunakan oil cooler

- Kipas boleh dilepas dan penutup magnet harus terpasang

- Bahan bakar wajib yang tersedia di SPBU, tidak diperbolehkan menggunakan bahan bakar pesawat (avgas), methanol dan lainnya.

 

SUPPORTING CLASS

KELAS BEBEK 2 TAK STD S/D 116 CC

1. Karbu standar modif, boleh dipotong bagian depan moncong karbu, Diameter venturi 23 mm dan bagian luar karbu tidak boleh ada perekat /lem. (kecuali kepentingan menutup pipa lubang oli samping, penahan skep dan setelan RPM /angin)

2. Magnet (fly wheel) standart boleh di bubut, batu magnit harus berfungsi atau terpasang

3. Pengapian : CDI standart, koil bebas, Spul standart harus terpasang

4. Gigi rasio bebas

5. Knalpot standart modif, diameter leher bebas dan wajib 2 lekukan

 

KELAS BEBEK 2 TAK S/D 120 CC

1. Karbu standart modif, moncong karbu boleh dipotong dan diameter venturi 24 mm. Boleh di lem di bagian luar karbu.

2. Magnet (fly wheel) standart boleh dibubut, batu magnit harus berfungsi atau terpasang

3. Pengapian : CDI standart, koil bebas, spul standart harus terpasang

4. Gigi rasio bebas

5. Knalpot standart modif, diameter leher bebas dan wajib 2 lekukan

- BAHAN BAKAR WAJIB MENGGUNAKAN PERTAMAX TURBO / YANG TERSEDIA DI SPBU PERTAMINA

 

PERHATIAN :

- Tidak boleh merubah spesifikasi yang telah dibuat oleh Pemprov IMI Jatim

- Jika melakukan pelanggaran atau tidak sesuai spesifikasi yang tercantum diatas , akan dikenakan sanksi diskualifikasi dan pemecatan .

 

 

Sampai disini, ketika mencermati regulasi kelas MP1 yang melegalkan bebek karbu untuk dibore up dan bertarung dengan bebek jantan Fuel injection 150 cc, diklaim dan dipastikan kian memacu kompetisi kembali membludak. Banyak variabel prediksi pendukungnya.

 

Regulasi baru MP1 mix karbu. Menjadi ajang kembalinya rider top ten Jatim & dijamin kembali diminati.

 

Pertama, bebek 4 tak MP1 karbu versi lama jadi dipaksa bangun lagi. Mungkin di seri perdana ini, dari sisi persiapan tim belum begitu merata. Kemungkinan spek MP 1 lama 130 cc, akan diuji coba tarung dengan mesin tegak 150 cc Fuel injection. Pertimbangannya HP dan torsi maksimal MP1 lama 130 cc, masih enteng menghela power band gigi rasio, kalau cuman di trek dadakan Ponorogo.

 

Atau justru ramai tuner yang memakai mesin berbasis drag bike, dengan revisi ulang di perbandingan kompresi dan maping ignition. Bahkan, tim karapan liar akan memandang regulasi di MP1 ini menguntungkan untuk menyewakan mesin karapan 150 cc berbasis karbu.

 

Dony Bule tuner Dony Speed, Probolinggo. Bisa menjadi ajang testcase mesin GTX.

 

“Tapi, yang paling istimewa, di kelas ini dipastikan menjadi ajang sparing partner rider pemula non usia yang masih semangat balap dengan mesin karbunya. Pasalnya, akan menjadi ajang kembalinya top ten rider Jatim, mereka kemudian yang diyakini tampil menjadi mentor rider pemula, ”pengamatan Dony Bule tuner Dony Speed asal Probolinggo yang kembali lagi menggarap mesin road race setelah lama transisi ke GTX.

 

“Bahkan saya yakin bisa juga kelas ini ketika dijadikan ajang testcase performa mesin GTX dari sisi durability-nya, sekaligus uji coba part racing terbaru dan saya pribadi sangat setuju dibuatnya regulasi ini, ”tambah tuner yang asli Jogja itu.

 

Dan kabar terbarunya untuk kompetisi Mini Gp, yang terhitung hampir memasuki perjalanan tahun ketiga, untuk setiap pemenangnya kuda besinya akan discrut. Sesuai dengan misi awal yang berangkat untuk pengenalan cara balap dan pembinaan, wajar dong ketika sportifitas disisipkan didalamnya dan dimulai sejak dini.

 

Aturan baru yang disahkan lain adalah pemantauan history rider Mini Gp. Artinya, bagi rider Mini Gp yang pernah berlaga di motocross atau road race dengan kuda besi regular, tak diperkenankan mengikuti Mini Gp. Sebab, perilaku itu setara dengan pengulangan atau down grade klasifikasi rider ke kompetisi lebih ringan. Sehingga, dari sisi kemampuan lebih unggul. “Terkecuali sebelum laga di Mini GP pernah menjadi atlit BMX, itu sah-sah saja, ”urai Parcok penggiat Mini Gp Jatim.  

 

 

Parcok penggiat Mini Gp Jatim. Sportifitas layaknya dimulai sejak dini & layak diberlakukan scrut.  

 

Seterusnya, untuk aturan baru lainnya tetap kita sepakati bersama, sembari mengikuti perjalanan dan perkembangan Mini Gp. Mengingat bagaimanapun juga Mini Gp, kompetisi baru di Jatim, perlu banyak pembelajaran dan input dari evaluasi setiap even.

 

Jadi, alangkah bijak dan sportfnya ketika berlangsung dengan porsi kuda besi yang sama levelnya. “Agar, kompetisi Mini Gp bisa diterima semua level peserta yang menginginkan putra-putrinya menjadi sosok rider, ”wejang Parcok.    pid