Fenomena drag bike : MEMBANGUN KOMUNIKASI DUA ARAH & MERATAKAN KUALITAS DRAG BIKE



 

Drag bike Jatim. Musim kompetisi 2019 saatnya direformasi & butuh pemerataan aturan menghadirkan kompetisi yang sportif.

 

Keseragaman atau pemerataan aturan hingga kontruksi pelaksanaan drag bike sampai tahun 2019, terbilang belum ada realisasi. Kualitas dan kontruksi pelaksanaan even, hanya berdasar dari kepiawaian koki yakni penyelenggara yang biasa bikin karapan 201 meter itu. Fenomena demikian setara bola liar, semua berhak menangkap dan menendangnya. Tinggal bola tadi berpihak ke siapa, disitu pemenangnya dalam hal ini penyelenggara yang sukses menarik minat peserta.

 

Ingat dan catat ya, kalau dibiarkan kondisi pemerataan aturan dan kontruksi penyelenggaraan drag bike seperti ini terus, dijamin total even drag bike dalam satu musim kompetisi akan sepi. Sebab, logikanya cuman penyelenggara yang menjadi rujukan tim drag bike yang selalu dibanjiri peserta. Memang dilematis, even drag bike yang menganut aturan dengan kontruksi penyelengaraan yang benar, sebaliknya sepi peserta.

 

 

Disebut demikian, cukup berpegang pada parameter pemakaian jenis sensor start. Pasalnya, akurasi sensor start yang memiliki tingkat kepresisian 0, 1000 detik, cuman dimiliki Bols Emtech. Memang sih, kualitas sensor start sejak awal misinya untuk membangun rider drag bike tampil profesional dan menyajikan kompetisi yang lebih sportif.

 

Tapi, lagi-lagi kebijakan yang kental dengan atmosfir pembinaan ini, masih belum diterapkan pada even drag bike level nasional. Kalau sudah begitu fungsi Pemprov IMI yang juga menjadi bagian regulator drag bike, dalam hal ini fungsinya terkesan tak berjalan. “Padahal dari sisi kontruksi pelaksanaan drag bike, saya ingin menciptakan kompetisi yang berkualitas, setara di road race yang sudah pakai transponder dan ada standarisasi, ”tegas Bambang “Kapten” Haribowo Ketum Pemprov IMI Jatim dengan nada tinggi.

 

Bambang Haribowo Ketum Pemprov IMI Jatim. Lebih intens mensosialisasi komunikasi dua arah dengan elemen drag bike.  

 

Nah, kalau ada opini sampai menyebutkan keinginan saya ini untuk memonopoli sensor start, saya tak harus dan mewajibkan pakai milik Bols Emtech. Minimal ada keseragaman dan pemerataan kualitas sensor start, terkait akurasi dan tingkat kepresisian untuk menciptakan kompetisi yang sportif.

 

Sisi lain, di 2019 ini saya mempertegas filterisasi juri yang ditunjuk, bagian dari  tim pelaksanaan even. Wajib dan layak menganut dan menjunjung tinggi juklak sebagai petunjuk pelaksanaan even selain buku aturan drag bike. Seperti batasan penentuan bobot motor, total hadiah, prasarana penunjang safety ban dan pagar barikade sepanjang trek. “Sebab, pada point ini saya tekankan sebagai sosialisasi tahap pemerataan kualitas penyelenggaraan drag bike lebih berkualitas, ”urai Bambang.

 

Sekaligus untuk menguji kredibelitas juri utusan di even drag bike, agar bisa kembali menyajikan fungsinya sebagai tim monitoring dan regulator. Dan mulai musim kompetisi drag bike di 2019, setiap dua bulan-nya akan kita eveluasi bersama antar penyelenggara, juri dan peserta, terkait perkembangan tahap proses meningkatkan kualitas drag bike di Jatim. “Agar, elemen terpenting di drag bike bisa saling bersinergi dan memberi input, demi tercapainya kualitas penyelenggara drag bike lebih berkualitas, ”urai Bambang.

 

Mengenai hadiah total point  di kejuaraan drag bike system seri yang biasanya dirupakan motor roda dua, kalau memang dikehendaki sebagai tuntutan peserta, khusus di Jatim bisa jadi akan saya terapkan sebagai standarisasi. Bila perlu ketentuan jenis unit motor roda dua tadi, diumumkan sejak awal even digelar dan diketahui serta disahkan oleh Pemprov IMI, sebagai legalitasnya.

 

Sisi lain, sehubungan dengan kritik dan saran untuk kemajuan even drag bike 2019 ini, ada statetmen menarik yang dilontarkan oleh Dian R. Kusuma owner tim Randumas P5Boer, Jombang yang kini merger dengan tim Baja Beton, Jombang. Dian menghimbau untuk ditegaskan mengenai pembatasan penggunaan motor. Akan lebih bijak, ketika 1 motor dibatasi di 2 kelas dan 2 rider saja.

 

Dian R Kusuma. Batasi maksimal motor berlaga di drag bike & berikan peluang tim baru.

 

Misal, Sport rangka standar 155 cc pemula dengan rider A, tetap boleh dipakai joint oleh rider B di kelas sport rangka standar 155 cc open. Dengan begitu, sport 2 tak 155 cc tune up open yang sempat dipakai rider D dan jawara, tetap ada peluang menang di kelas sport 2 tak 155 cc tune up pemula saat dipacu oleh rider E saja, tapi tak sampai mendominasi.

 

Point ini saat dikaji lebih dalam, sebenarnya paling krusial mempengaruhi mental tuner dan manager, saat akan membangun kuda besi. Sebab, peluang untuk turun dan menang, terhitung tipis. “Kalau sudah begitu, laga di drag bike sifatnya cuman uji coba dan tak akan balik di seri berikutnya, ”lontar Dian. Tapi, coba ketika dibatasi dan peluang menang masih terbuka lebar, optimis akan banyak bermunculan jawara baru. “Bila perlu, diberlakukan di semua kelas pasti akan terjadi respon positif, ”optimis Dian.

 

Dian juga menambahkan status rider provinsi yang datang berlaga di Jatim, kalau bisa dikategorikan sebagai seeded. Sebab, dari history dan status pemula berprestasi atau sering, tak ada yang tahu. Kemungkinan hal ini pula yang akan tetap memberikan motivasi kepada rider pemula lebih semangat berlaga.

 

Demikian Doni tuner sekaligus owner tim DKMS Kepanjen, turut menyampaikan himbauan terkait rentang jadwal drag bike yang terbilang terlalu mepet. Minimal jedah bisa diberikan 3 minggu atau 1 bulan, agar persiapan refresh mesin dan financial bisa maksimal. Berlaku untuk rangkaian jadwal drag bike yang berada dibawah naungan Pemprov IMI Jatim. “Termasuk even kejurnas atau even branding drag bike lain, ”tambah Doni.       pid