Thursday, Oct 23rd

Last update:06:34:08 AM GMT

You are here: OTORACE NASIONAL HONDA RACING CHAMPIONSHIP’10 JOGJA: FOKUS BLADE, SUPRA 125 ATAU KEDUANYA

iklan ototrend edisi

BEST KNALPOT

HONDA RACING CHAMPIONSHIP’10 JOGJA: FOKUS BLADE, SUPRA 125 ATAU KEDUANYA

User Rating: / 15
PoorBest 

HONDA RACING CHAMPIONSHIP’10 JOGJA: FOKUS BLADE, SUPRA 125 ATAU KEDUANYAFakta di lapangan membuktikan tim-tim yang berbasic pacuan Honda dihadapkan pada pilihan untuk serius meriset Blade atau Supra 125 atau keduanya. Dua motor inilah yang terbanyak diturunkan  setidaknya di Honda Racing Championship 2010 (HRC 2010) seri III yang berlangsung di sirkuit Mandala Krida Jogjakarta (8/8) dengan menggandeng EO lokal VSC (Venture Sport Club) yang digawangi Drs. Nadjib M saleh.

Kondisi tersebut mengacu pada kenyataan dalam kompetisi Motoprix dan setingkat di atasnya Indoprix 2010 bahwa ada tim yang saat fight di kategori IP1 (125 cc) lebih pede manggunakan Blade yang dibore-up alias mengganti piston dengan diameter yang lebih gede.  Ada juga yang berbeda dengan tetap mengandalkan Supra 125, hingga memberi atensi yang sama antar keduanya. Jadi berdasar regulasi IMI memang tidak dilarang penggunaan Blade yang dibore-up untuk IP1 seperti juga kompetitor, juga tidak ada larangan dari pabrikan AHM (Astra Honda Motor).

Sekedar catatan, dalam HRC 2010, maka IP1 diwajibkan dengan Supra 125/Karisma. Tidak boleh Blade bore-up. Hanya saja jadi terasa kurang signifikan karena dalam persaingan Kejurnas diambil strategi perang yang berbeda. Beberapa tim yang aplikasi Blade bore-up di Motoprix 2010 di antaranya Honda Putra Rinjani IRC NHK Federal Oil Ahau Racing Team, Honda DAM Adira NHK Motora, lalu Wahana Dunia Motor FDR Ink Federal Oil. Termasuk Honda Banten NHK FDR yang bertarung di Indoprix 2010.

Namun ada juga yang tetap dengan Supra 125, seperti pasukan Honda Aries Putra Federal Oil MPM KYT Oei Racing dan Honda Tunas Jaya FDR INK Federal Oil, keduanya di kawah Indoprix 2010.  “Tim kami serius meriset keduanya. Image keduanya harus dibuat berimbang,“ tegas  Eko Budi Sentosa, owner Honda Aries Putra Federal Oil MPM KYT Oei Racing. Pasukan yang didukung Aries Putra sebagai diler Honda wilayah Nganjuk, Tulungagung dan Jombang ini all-out dengan joki Wahyu Widodo dan Meilan serta Juni AS.

“Kalau kita lebih praktis dengan Blade buat para pemula MP3 (125 cc) dan MP4 (110 cc),“ timpal Pepen Purnama, komandan tim DAM KYT FDR Federal Oil FIF Warning Golden SND asal Subang dengan jagoan Dadan Alamsyah, Angga PA, Marsholandi dan joki cilik 12 tahun Andi Farid yang sukses merebut jawara kelas Blade Standar pemula.

Secara logika memang akan lebih efisien dan praktis jika pakai mesin Blade untuk dua kelas tersebut tadi. Terlebih klaim beberapa kiliker, sasis Blade lebih menguntungkan saat melahap tikungan patah.  Termasuk dimensi tubuh yang aerodinamis dengan spek 1885 x 709 x 1071 mm (P x L x T) dan sumbu roda 1221 mm. “Frame belakang dipotong, lalu dibuatkan lagi dudukan baru sok belakang bagian atas yang digeser ke dalam lebih rebah 2,8 cm. Efeknya sangat terasa di pembalap,“ terang Suharyono Juanda, gaul dipanggil Rio, punggawa tim Honda Putra Rinjani IRC NHK Federal Oil Ahau RT.

Sebetulnya Supra 125 juga berpotensi, apalagi dibekali dengan nilai lebih overstroke (57,9 mm). “Butuh riset mendalam karena diameter klep masuk tidak bisa terlalu besar yaitu 28 mm karena piston yang kurang gede. Padahal sebetulnya aturan IP1 bisa sampai 30 mm. Saat ini perhatian tertuju pada ujicoba headcylinder, porting dan camshaft,“ tutur Ferdy Iskandar,  mekanik Honda Tunas Jaya FDR INK Federal Oil, juga putra dari almarhun Michael Iskandar atau Om Chia yang khusus meriset Supra 125 karena Blade ditangani tukang korek yang lain.

VENDOR SUPPORT PENUH
Tentu saja bicara langkah riset butuh dukungan berbagai part penunjang. Dalam hal ini  dapat yang berhubungan dengan mesin ataupun kaki-kaki macam sokbreker dan ban. Demikian hal yang bersifat mutlak untuk mencapat hasil yang optimal. Sehubungan konteks tersebut, berbagai vendor AHM (Astra Honda Motor) yang mendukung Honda Racing Championship (HRC 2010) sangat mendukung upaya test-case lewat pengadaan produk yang notabene berdasar aspirasi tim juga.

“Kita ditawarkan berbagai pilihan sokbreker depan Blade dari Showa dengan berbagai karakter rebound atu tingkat kekerasan. Jadi tinggal pilih saja,“ ujar Ismoyo, akrab disapa Monyenk, tuner tim Honda Putra Rinjani IRC NHK Federal Oil Ahau Racing Team yang terbukti membawa rider Wawan Hermawan meraih podium jawara MP2 (110 cc) HRC 2010 Jogja, juga terbaik sementara se-pasukan Honda dalam pentas Motoprix 2010. Juga service ban FDR dengan berbagai tipe sesuai kondisi cuaca dan keinginan joki.

“Saat ini sedang difokuskan juga atensi ke ban matik Blade R14. Banyak yang merespon lebih baik dari yang ada,“ ujar Mahar Marjono dari PT. Suryaraya  Rubberindo Industries, produsen ban FDR. Termasuk FIM Piston diameter 54,4 mm yang mendukung bore-up Blade saat akan bermain di IP1 (125 cc).  Kapasitas bisa menyentuh 129, 16 cc (limitnya 130 cc). Termasuk juga piston yang 53,3 mm untuk memaksimalkan  silinder Supra 125 menjadi 129, 12.

“Dukungan vendor sangat dibutuhkan untuk menyelaraskan keinginan mekanik, “tegas M Novel Faizal dari CDI Rextor yang siap menguji jenis terbaru label RR pada Honda Banten NHK FDR dengan output yang lebih baik. | ogy

Comments  

 
0 #1 adjidoy 2010-10-23 08:59
saya punya honda grand impresa'97....saya mau bikin kenceng ala BaLi tapi untuk penampilan saya menginginkan standar. saya mau memakai block dan head milik kharisma dan menggunakan piston tiger oversize 50. dan klep pakai punya honda sonic. untuk champ'nya saya belum tau ukuran TMA dan TMB nya. kira2 habis biaya brapa ya??
Quote
 

Add comment

BICARALAH! sebelum bicara itu dilarang.
TERIMAKASIH bila komentar-pertanyaan disampaikan secara BAIK dan TEPAT.


Security code
Refresh